Bagikan
Pada setiap malam ganjil di sisa sepuluh hari Bulan Ramadan, masyarakat Desa Geneng, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, menggelar tradisi kenduri selamatan bersama-sama, yang puncaknya diakhiri dengan kenduri selamatan Riyayan.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Untuk pertamakalinya kenduri selamatan Riyayan, digelar di Masjid Al Hidayah, Dusun Demangan, Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Masing-masing warga yang bermukim di wilayah Rukun Tetangga (RT) 3, datang ke masjid dengan membawa ambengan (nasi dan lauk pauk) sebagai sesaji kenduri Riyayan, dan menjadi kelengkapan sarana pemanjatan doa bersama di masjid.
Sebagaimana lazimnya, kenduri selamatan Riyayan digelar warga dalam rangka merayakan penyambutan hari raya lebaran Idul Fitri. Biiasanya, kenduri selamatan Riyayan digelar di masing-masing rumah warga, berjalan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah yang lain. ”Tapi untuk pertamakalinya pada kenduri Riyayan Tahun 2018 ini, warga sepakat menggelar kenduri selamatan Riyayan bersama-sama di masjid,” jelas Sekretaris Desa (Sekdes) Pijiharjo, Sudardi.
Tampil menjadi juru doa, Ketua Takmir Masjid Al Hidayah, H Marsan. Hadir pula dalam kenduri selamatan Riyayan ini, Kepala Dusun (Kadus) Demangan, Wasdi, bersama para tokoh masyarakat setempat. Bersamaan kenduri selamatan Riyayan tersebut, dilaksanakan pula acara buka bersama (Bukber) hari terakhir berpuasa di Bulan Ramadan.
Budayawan Jawa peraih anugerah Binta Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat, menyatakan, kenduri selamatan Riyayan, merupakan tradisi masyarakat Islam (Jawa), untuk menyambut perayaan Idul Fitri.
Tujuannya, untuk mengungkapkan perasaan lega dan syukur, setelah selama sebulan berhasil menjalani ibadah puasa Bulan Ramadan. Dalam kenduri selamatan Riyayan, dipanjatkan doa permohonan agar dalam menjalani kehidupan pasca-puasa, senantiasa mendapatkan berkah, anugerah kemudahan dan kebahagiaan dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi (Tuhan). Bersamaan itu, dipanjatkan doa untuk para roh arwah leluhur, agar diampuni dosa dan kesalahannya serta dapat diterima kembali di alam ke-Allah-an (mulih marang mula nira) dan ditempatkan di kaswargan jati (surga).
KRA Pranoto Adiningrat yang juga abdi dalem Keraton Surakarta, menyebutkan, kenduri selamatan Riyayan, menjadi puncak dari serangkaian selamatan kenduri pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan. Di rentang waktu sisa sepertiga Bulan Ramadan, masyarakat Islam (Jawa) selalu mengadakan kenduri selamatan pada setiap malam tanggal ganjil. Ini dimulai dari malam Tanggal 21 yang populer disebut Selikuran, malam Tanggal 23 (telulikuran), malam Tanggal 25 (selawenan), malam Tanggal 27 (pitulikuran), malam Tanggal 29 (sangalikuran).
Tukidi dan Sarmini, tokoh masyarakat di Dusun Geneng, Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, mengatakan, kenduri selamatan setiap malam tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadan, masih dilestarikan oleh warga. Masing-masing keluarga membawa sesaji ambengan kenduri selamatan, untuk kemudian dikumpulkan dan dipanjatkan doa bersama di rumah tokoh warga. ”Bagi yang repot tidak punya waktu membuat ambengan, dapat diganti dengan menyetorkan uang Rp 40 ribu,” jelas Tukidi.
Dipilihnya malam tanggal ganjil pada rentang sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan, ini erat kaitannya dengan keyakinan turunnya wahyu Lailatul Qadar, yang itu diyakini sebagai anugerah kemuliaan setara seribu bulan. Menurut Serat Ambya, tradisi Selikuran digelar oleh Keraton Surakarta dalam rangka memperingati Nuzulul Quran dan memperingati berdirinya Kebon Raja Taman Sriwedari.
Sebagaimana dituliskan dalam Buku Bau Warna Adat Tata Cara Jawa, karangan Drs Harmanto Bratasiswara (Yayasan Surya Sumirat Jakarta 2000), Kebon Raja Taman Sriwedari dibangun pada masa Raja PB X, yang penggarapannya dipimpin Arsitek Kanjeng Adipati Sosrodiingrat. Sebagai karya yang monumental di zaman kejayaan keraton, Kebon Raja Taman Sriwedari diresmikan pada Hari Rabu Wage Muud Tahun Dal 1831 (17 Juli 1901).(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here