Bagikan
Rektor UMS, Dr Sofyan Anif MSi saat menyampaikan khutbah Idul Fitri 1439 H di Alun-alun Karanganyar. Foto: san

KARANGANYAR-Bangsa Indonesia saat ini terus menerus menghadapi permasalahan besar. Tidak saja, persoalan yang menyangkut sosial ekonomi tetapi juga rendahnya karakter bangsa yang pada akhirnya dalam kancah global Bangsa Indonesia dinilai sebagai bangsa yang bermartabat rendah.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Sofyan Anif MSi dalam khutbah Idul Fitri 1439 H yang lalu di Alun-alun Karanganyar.  “Indonesia adalah negara multikultural terbesar di dunia yang terdiri atas sejumlah kelompok, etnis, budaya, agama dan lain-lain. Pluralitas dan heterogenitas tersebut sebagai potensi untuk membangun negara multikultur yang besar. Meskipun di sisi lain juga mempunyai potensi konflik yang dapat menimbulkan perpecahan,” ungkapnya.

Apalagi saat ini  ada upaya-upaya yang cukup kencang untuk mengadu domba umat Isalam sebagai penghuni terbesar bangsa ini. Polarisasi, polemik, dan konflik yang melibatkan kelompok suku, agama, dan budaya tersebut disebabkan oleh rendahnya komitmen dan karakter bangsa. Lalu masih banyak yang memiliki komitmen karakter spiritual dan sosial yang rendah.

Selain itu, dalam khutbah yang berjudul “Membangun Karakter Bangsa yang Unggul Melalui Implementasi Nilai-nilai Ramadhan”  itu Sofyan Anif mengajak umat muslim di tanah air untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap pola pikir dan perilaku dengan mengimplementasikan komitmen ketakwaan setelah menjalankan ibadah Ramadhan.

“Sebagai sebuah ajaran, Islam memerintahkan umatnya agar senantiasa melakukan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. “Allah memberikan waktu sebulan penuh di Ramadhan, untuk melakukan perubahan terjadap jati diri atau perubahan karakter. Yaitu karakter dalam sebuah amal soleh melalui pendidikan Ramadhan. Orang yang berperilaku jujur, disiplin, adil, tidak sombong, gemar berinfak, sabar, dapat menahan hawa nafsu, pemaaf, bersyukur, berilmu  adalah karakter orang bertakwa,” ungkapnya.

Pesan-pesan itulah yang diharapkan dapat terbentuk secara menyeluruh bagi orang yang menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Pembentukan karakter takwa melalui kesalehan sosial itulah yang menjadi tujuan puasa.

“Puasa Ramadhan juga bisa menjadikan seseorang mempunyai kecerdasan spiritual, sosial, dan kecerdasan emosional. Hal ini dibuktikan dengan karakter seseorang yang gemar beribadah, tidak kikir, tidak suka marah dan pemaaf. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 133,” tambahnya.

Sifat yang demikian itu dapat dipastikan akan memunculkan karakter seseorang yang selalu senang bersilaturahmi, tidak pernah merasa paling benar, mau mendengarkan nasihat orang lain dan ikut merasa senang apabila melihat orang lain menerima nikmat dari Allah SWT.

“Apabila kita telah memiliki sifat demikian maka berarti kita telah terbebas dari sifat sombong. Puasa Ramadhan telah membebaskan manusia dari sifat sombong. Kesombongan dapat merusak tatanan kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” tambahnya.

Pasca Ramadhan, setiap muslim dituntut mengaktualisasikan nilai-nilai Ramadhan untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sebagai penduduk mayoritas, maka umat muslim harus memberikan warna dasar dalam membangun karater bangsa. Bangsa Indonesia sangat membutuhkan obat rohaniah agar terbebas dari sejumlah penyakit kronsi yang muaranya pada pemberntukan karakter,” urainya.

“Marilah kita jadikan momentum pendidikan Ramadhan kemarin untuk melakukan pencerahan diri dalam upaya membangun pribadi yang utama dalam rangka mewujudkan karakter bangsa yang unggul berbasis takwa,” paparnya. (San)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here