Bagikan
Pelayanan arus balik di Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri diperpanjang. Hal ini untuk menyikapi masih banyaknya perantau yang balik dalam waktu belakangan ini.(SMNet.Com/bp)
WONOGIRI – Meski operasi Ketupat Candi 2018 telah ditutup, tapi pelayanan arus balik pasca-Lebaran Idul Fitri 1439 H di Kabupaten Wonogiri, sampai sekarang masih berlangsung. Penumpang yang kembali ke perantauan, masih terus mengalir. Ini menjadikan pelayanan arus balik pasca-Lebaran, berlangsung lebih panjang dibandingkan dengan arus mudik pra-Lebaran.
”Seperti tahun lalu juga demikian,” tegas Kepala Satpel Temrinal Tipe A Giri Adipura Kabupaten Wonogiri, Agus ‘Glempo’ Hasto Purwanto. Tahun lalu, pelayanan penumpang Lebaran Idul Fitri digelar selama 27 hari, terhitung mulai H-10. Total kedatangan penumpang yang memakai bus ada sebanyak 114.810 orang diangkut 6.077 bus. Terdiri atas jumlah kedatangan sebanyak 5.120 bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) yang mengangkut sebanyak 91.328 penumpang, dan 956 bus Antar-Kota Dalam Provinsi (AKDP) mengangkut penumpang sebanyak 23.482 orang.
Kemudian untuk jumlah keberangkatan sebanyak 5.301 bus mengangkut 118.294 penumpang. Terdiri atas 4.401 bus AKAP mengangkut 95.825 penumpang dan 899 bus AKDP mengangkut 22.469 penumpang.
Untuk Lebaran Idul Fitri 1439 H Tahun 2018, terhitung sampai sejak Tanggal 7 sampai dengan 24 Juni 2018 (selama 18 hari), jumlah kedatangan sebanyak 4.791 bus (104.671 penumpang). Terdiri atas 1.125 bus AKAP (76.810 penumpang) dan 1.115 bus AKDP (27.861 penumpang). Jumlah keberangkatan sebanyak 4.340 bus mengangkut 91.495 penumpang. Terdiri atas 1.125 bus AKDP (30.274 penumpang) dan 3.215 bus AKAP (61.221 penumpang).
Menyikapi sampai sekarang masih berlangsung arus balik pasca-Lebaran Idul Fitri 1439 H, maka pelayanan arus balik di Terminal Induk Giri Adipura Wonogiri masih dilakukan. ”Paling tidak kita samakan dengan jadwal pelayanan tahun lalu,” tandas Agus Hasto Purwanto. Hal ini berkaitan dengan panjangnya liburan anak sekolah, Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 dan banyaknya orang punya hajat.
Bagi para perantau yang tidak terikat oleh hari masuk kerja, masih bertahan di kampung halaman, untuk nyoblos Pilgub dan ‘njagong’ orang punya kerja. Sehingga kepulangannya ke perantauan, ditunda sampai keperluannya di kampung asal terselesaikan. Untuk keperluan Pilgub telah selesai, tapi urusan sosial kemasyarakatan ‘njagong’ orang punya hajat, ini masih berlangsung.
Bupati Wonogiri Joko Sutopo, minta agar ada evaluasi terhadap pelayanan mudik dan arus balik. Tujuannya untuk penyempurnaan langkah dalam merancang pelayanan tahun depan. ”Termasuk aspirasi tentang perlunya menyikapi aspirasi soal penambahan pelayanan mudik gratis, itu perlu dipikirkan bersama,” tegas Bupati.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Wonogiri, Sardi, minta agar pelayanan mudik gratis yang diupayakan Pemkab Wonogiri, kuotanya dapat ditambah. Hal itu demi menolong kaum boro (perantau) kelas menengah ke bawah yang perlu mendapatkan bantuan kemudahan mudik. Tahun 2018 Pemkab Wonogiri menganggarkan Rp 800 juta dana APBD untuk pelayanan mudik gratis. ”Tahun depan, itu dapat ditingkatkan lagi sesuai dengan kemampuan keuangan kita,” ujar Sardi.
Hal penting yang perlu dipikirkan, tambah Sardi, yakni upaya memberdayakan kaum boro. Mayoritas, mereka adalah buruh atau pekerja. ”Bijaksana mereka ini ditingkatkan pemberdayaannya menjadi wirausaha, agar keberadaannya lebih mandiri dalam upaya meningkatkan kesejahteraannya,” jelas Sardi.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here