Bagikan
Paidi (tengah) ayah kandung korban, didampingi Ketua RW 6 Paino (kiri) dan Tokoh Masyarakat Gunadi (kanan), menunjukkan surat pemberitahuan tentang proses penyidikan pada diri tersangka Djumari, yang dibuat Polsek Ngadirojo.(SMNet.Com/bp)
WONOGIRI – Seorang Purnawirawan Polri, Djumari (61), diadukan ke Polsek Ngadirojo Polres Wonogiri, sebagai tersangka pelaku penganiayaan kepada anak di bawah umur. Warga Dusun Grenjeng RT 1/RW 5 Kelurahan Kasihan, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, ini dijerat Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) Nomor: 35 Tahun 2014.
Sebagai tersangka, pria kelahiran Wonogiri Tanggal 16 Agustus 1957 tersebut, diadukan oleh ayah korban, yakni Paidi ( 49), warga Lingkungan Pulo RT 1/RW 6, Kelurahan Kasihan, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Saat mengadukan ke Kantor Polsek Ngadirojo, Paidi, ditemani oleh 19 orang penduduk. ”Kami bersama warga, tidak terima anak saya dianiaya. Kasus ini, hendaknya dituntaskan menurut hukum, dan kepada pelaku diberikan sanksi hukuman yang setimpal,” ujar Paidi.
Kepada wartawan, Jumat (29/6), Paidi yang didampingi Ketua RW setempat, Paino, dan para tokoh masyarakat Lingkungan Pulo, menyatakan, kasus penganiayaan diakukan Djumari kepada Al Pandan (12). Yakni putra bungsu dari dua bersaudara keluarga Paidi, yang masih duduk di Kelas 1 SMP Negeri 2 Ngadirojo.
”Kejadiannya berlangsung di rumah saya, Rabu Tanggal 6 Juni 2018 pukul 09.30,” tutur Paidi. Bersama tokoh masyarakat, Paidi, mempertanyakan, mengapa kasusnya tidak segera ditangani tuntas dan tersangka tidak ditahan. Pada hal, kasusnya telah diadukan sejak Tanggal 6 Juni 2018 lalu.
Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede, melalui Kapolsek AKP Budiyono dan penyidik Ipda Bonal Eko Trilaksono, menegaskan, kasusnya tengah dalam proses penyidikan. ”Tidak ada upaya untuk menghentikan, proses penyidikannya jalan terus, meski tersangka seorang purnawirawan polisi,” tegas Kapolsek Ngadirojo AKP Budiyono.
Kalau tersangka tidak ditahan, itu karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun. Meski tidak ditahan, kepadanya diwajibkan apel setiap hari Kamis datang ke Polsek Ngadirojo. ”Tolong, ini dipahamkan kepada pelapor, supaya tidak berprasangka negatif,” tandas Kapolsek Ngadirojo AKP Budiyono.
Menurut Paidi, penganiayaan berlangsung di rumahnya, dengan cara tersangka mendatangi dan menanyakan tentang keberadaan korban. ”Endi anakmu, arep tak ajar (Mana putramu, akan saya hajar),” tutur Djumari sebagaimana ditirukan Paidi.
Penganiayaan dilakukan di hadapan kedua orang tua dan kakak korban serta sejumlah warga, dan itu baru berhenti ketika Djumari dirangkul oleh salah seorang tokoh masyarakat setempat, Sutar, yang saat itu berupaya menyadarkan kalau korbannya adalah anak kecil. ”Pun Pak, niki lare alit (Sudah Pak, ini anak kecil),” tegas Sutar.
Saat diperiksa petugas, tersangka Djumari membantah melakukan penganiayaan. Mantan polisi Polres Karanganyar ini, mengaku hanya memukul Al Pandan satu kali. Itu dilakukan karena emosi, sebab cucunya, Alka (11), mengadu telah dinakali Al Pandan (korban). Tersangka masih tetangga satu kelurahan dengan korban, dan telah berupaya untuk berdamai, tapi ditolak pihak keluarga korban.
Paidi membantah kalau putranya ‘menakali’ cucu Djumari. Ketua RW 6 Lingkungan Pulo, Kelurahan Kasihan, Paino, menambahkan, permintaan damai terlambat disampaikan Djumari. ”Sejak awal dia bersikap tidak bersahabat, merasa tidak bersalah, dan meremehkan keluarga korban yang dipandangnya hanya orang kampung,” timpal Gunadi. Tokoh masyarakat Lingkungan Pulo ini, menirukan ucapan Djumari yang bernada tidak bersahabat: ”Yen pancen kowe adol, ya tak tuku (Bilamana kamu menjual, ya saya beli).”(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here