Bagikan
Sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Wonogiri, dibanjiri para pendaftar pembawa SKTM. Harapannya, mereka dapat langsung diterima sebagai calon siswa baru di sekolah negeri yang dikehendaki. Sebab SKTM menjadi surat sakti jaminan dapat diterima.(SMNet.Com/bp)
WONOGIRI – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran (TA) 2018/2019, memicu keresahan anak didik, orang tua dan masyarakat. Pasalnya, siswa-siswa pandai pemilik nilai Ujian Nasional (UN) tinggi, tersisihkan oleh murid bodoh yang nilai UN-nya rendah, karena membawa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).
Sistem ini, dinilai telah menodai dan mencederai proses rekrutmen calon siswa baru di sekolah-sekolah negeri, termasuk sekolah berkategori favorit. Kebijakan yang dinilai irasional dan bertentangan dengan aspek edukatif ini, dikhawatirkan akan mempengaruhi penurunan kualitas pembelajaran dan merosotnya mutu pendidikan, utamanya terhadap murid di kelak kemudian hari. Para orang tua dari kalangan anak pemilik nilai UN tinggi, mendesak agar pemerintah secepatnya meninjau ulang kebijakan yang berkait dengan SKTM, yang kini dijadikan salah satu persyaratan jaminan diterima bagi pendaftar.
Budi Priyanto, salah seorang tokoh masyarakat Wonogiri, menilai, penggunaan SKTM sebagai jaminan diterima dalam PPDB, itu harus segera dicabut. ”Karena mencederai sistem pelayanan pendidikan dan merugikan masyarakat,” tegasnya. Mantan pimpinan Partai Politik (Parpol) di Kabupaten Wonogiri ini, mengharapkan, agar dalam rekrutmen siswa baru tidak diwarnai muatan politis yang merugikan siswa pandai. Sebab, banyak anak-anak pandai pemegang nilai UN tinggi, kini menjadi kecewa berat, karena tersisihkan oleh murid-murid bodoh yang nilai UN-nya rendah.
”Yang bodoh yang nilai UN-nya hanya 16 diterima karena membawa SKTM, dan ironisnya anak-anak pandai dengan nilai UN 30-32 tersisihkan tidak dapat diterima dalam rekurtmen PPDB,” tegas Budi Priyanto. Dia juga menyerukan kepada pamong desa dan camat, agar selektif dalam memberikan SKTM. Sebab, banyak anak orang kaya membawa SKTM demi pamrih agar anaknya diterima di sekolah negeri.
Para pengelola sekolah negeri, juga menaruh curiga mengapa aparat pemerintah desa dan kecamatan, begitu mudah memberikan SKTM pada orang-orang yang tidak miskin, yang kondisinya mampu, kaya, dan hidupnya berkelimpahan materi. Di sisi lain, pamong desa berprasangka negatif kepada pengelola sekolah, mengapa sekarang berbuat aneh dalam merekrut siswa baru, yang ikut mensyaratkan SKTM. Salah satu pamong desa di Wonogiri, mengeluh, karena dalam hari-hari belakangan ini diserbu warganya yang meminta SKTM, untuk syarat penerimaan siswa baru di sekolah negeri.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kabupaten Wonogiri, Suwandi, menyatakan heran mengapa orang kaya dan mampu juga melampirkan SKTM. ”Itu hampir terjadi di semua sekolah negeri,” jelas Suwandi yang menjabat pula sebagai Kasek SMK Negeri 2 Wonogiri. Untuk memantau PPDB termasuk berapa jumlah siswa miskin yang terdaftar, warga masyarakat dapat mengakses layanan internet lewat: Siap PPDB Online Jateng.
Di jejaring internet tersebut, diketahui data PPDB di SMK Negeri 1 Bulukerto Kabupaten Wonogiri, dari kuota PPDB sebanyak 360 siswa, 239 pendaftar didominasi siswa miskin pemegang SKTM. Perinciannya, untuk kuota jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) Otomotif sebanyak 144 anak, sebanyak 83 diantaranya mengaku miskin. Kemudian kuota jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) sebanyak 108 anak, sebanyak 64 diantara didominasi siswa pembawa SKTM. Demikian halnya untuk kuota jurusan Akutansi Perbankan 108 anak, didominasi 82 siswa yang juga membawa SKTM.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here