Bagikan
Dekan FKI Dr Nurgiyatna, ST, MSc, bersama mahasiswa PKM bimbingannya

SUKOHARJO- Sebuah alat penyiraman otomatis untuk tanaman hias, berhasil diciptaklan lima mahasiswa kreatif Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) .  Alat penyiraman ini dinilai ekonomis dan efisien,  karena memanfaatkan sistem kelembaban tanah pada tanaman.

Alat diberi nama Promatan-Seratis (Prototipe Pengatur Kelembapan Tanah Sekaligus Penyiraman Otomatis). “Alat ini dapat melakukan penyiraman secara otomatis dengan cara mendeteksi kelembapan tanah mengunakan Soil Moisture Sensors,” ungkap selaku Ketua Tim, Wahyu Titis Satria Utama, Senin (9/7/2018).

Ditambahkan Wahyu, pembuatan alat tersebut merupakan bagian dari proyek penelitian mahasiswa yang didanai Kementrian Riset teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam skema Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Tahun anggaran 2017/2018.

Adapun kelima mahasiswa tersebut terdiri atas tiga mahasiswa Teknik Kimia yaitu Aditya Putra Yusanta, Febrian Dara Ninggar dan Pracilia Ayu Yulia Savega serta dua mahasiswa Teknik Elektro yakni Wahyu Titis Satria Utama dan Syaefudhin.

Tim dibimbing oleh Dr Nurgiyatna, ST, MSc, yang juga Dekan Fakultas Komuniasi dan Informatika UMS. Alat  penyiraman otomatis itu, saat ini  tengah diujicobakan di sentra tanaman hias Desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.

Menurut Nurgiyatna, alat Promatan-Seratis itu memiliki sistem yang fleksibel yaitu dengan pengunaan timer dan pengunaan kelembapan serta indikator kadar kelembapan tanah pada tanaman hias.

Sehingga tanaman hias tersebuat tetap terjaga kelembapan tanahnya dengan dua cara yaitu peyiraman sesuai dengan kebiasaan petani (Penggunaan Timer) dan pengunaan kelembapan tanah. “Semua  sistem itu, dapat  terpantau oleh smartphone  android atau laptop,” jelasnya.

Wahyu Titis menambahkan, di Desa Nglurah, Tawangmangu merupakan sentra tanaman hias yang lahannya berhektare-hektare, sedangkan para petaninya masih melakukan penyiraman secara manual.

Menurutnya, alat itu memberikan solusi terjaganya kesuburan tanaman dengan tingkat keekonomian dalam pengguanaan air.

Salah seorang petani tanaman hias, Sugimin merasakan manfaat dari pengunaaan alat ciptaan mahasiswa UMS ini. Dia mengungkapkan, selama alat tersebut dipasang pada lahan miliknya, penyiraman atau pengairan lebih efektif dari pada menggunakan spare air dengan tangan (melakukan penyiraman dengan cara manual yaitu mengunakan sprinkel atau selang).

“Saya sangat puas selama alat ini terpasang  karena, tenaga kerja kami tidak banyak yang di buang-buang dalam hal pemeliharaan tanaman,” jelas Sugimin.

Ditambahkan Wahyu Titis, alat itu dilengkapi dengan tiga kelebihan yaitu  pertama, alat itu bisa dilakukan dengan timer jika peyiraman dilakukan menurut kebiasaan petani tanaman hias. Maka alat itu bisa diatur oleh petani sesuai dengan kebutuhannya tanaman tersebut.

Kedua, sesuai dengan kelembabapan  tanaman mengunakan Soil Moisture Sensors, maka petani tidak perlu mengatur alat itu karena alat tersebut akan melakukan  penyiraman secara otomatis dan ada indikator lampu bahwa tanaman tersebut kekeringan atau kelembapannya tercukupi.

“Kelebihan ketiga, alat itu bisa melakukan monitoring tanaman tersebut melalui smartphone android atau laptop. Pada alat ini dimensi yang digunakan lumayan kecil, alat tersebut terbagi atas dua bagian yang terpisah yaitu bagian mikrokontroler dan bagian sensor dan fleksibel jika dipasang pada perkebunan tanaman hias,” tambah Titis.

“Alat ini dapat terus disempurnakan dengan tujuan agar manfaanya bagi masyarakat khususnya petani tanaman hias dapat terpenuhi,” harap Nurgiyatna. (san)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here