Bagikan
Los tempat berjualan pedagang ayam potong di Pasar Rejowinangun dibiarkan kosong, (SMNet.Com/dh)

 

MAGELANG- Hingga kemarin (23/7) daging ayam potong  masih menjadi barang langka di berbagai pasar di Kota Magelang, khususnya di Pasar Rejowinangun dan Pasar Kebonpolo. Mulai Minggu (22/7) pedagang ayam potong enggan berjualan.

Hal itu dampak dari tingginya harga ayam pedaging dalam beberapa hari terakhir. Keadaan itu menyebabkan los penjual daging ayam potong di kedua pasar tersebut  tidak ada aktivitas. Pedagang  memilih mengosongkan los tempat mereka berjualan setiap hari. Belum tahu kapan mereka mau berjualan lagi. Diperkirakan setelah harga ayam pedaging normal seperti semula.

Maesaroh ( 49), pedagang ayam di Pasar Kebonpolo
mengatakan,  aksi tidak berjualan dilakukan para pedagang karena pasokan dari peternak sejak empat hari terakhir mengalami  kesulitan. ‘’Mulai empat hari terakhir, pasokan ayam pedaging dari sejumlah peternak dikurangi, dan harganya sudah melambung tinggi,’’ katanya.

Dia menuturkan,  harga beli dari peternak sudah tinggi, yakni mencapai Rp 25.000 per kilogram ayam hidup. Akibatnya pedagang di pasar  tidak bisa berbuat banyak. Kalau dijual mahal ke konsumen takut tidak laku dan akibatnya rugi.

‘’Dari peternak sudah Rp 25.000/kilogram ayam hidup. Kalau  dijual dengan harga Rp 35.000/kilogram  saya yang rugi.
Sedang kalau dijual lebih mahal  takut tidak ada yang membeli. Lebih baik pedagang memilih tidak berjualan untuk
sementara waktu,’’ ujarnya.

Menurutnya, saat ini harga jual ayam pedaging kepada konsumen mencapai titik tertinggi  yakni Rp 45.000/ kilogramnya. Sebelumnya harga jual ayam pedaging menjelang hingga sesudah lebaran berkisar Rp 35.000/kilogram hingga Rp 36.000/kilogramnya.

Dia menuturkan, aksi para penjual ayam pedaging di pasar   tidak diketahui kapan berakhir, sambil menunggu harga daging ayam stabil.

Tingginya harga ayam potong, tidak berpengaruh pada
pedagang ayam kampung. Karena, konsumen ayam kampung mempunyai segmen tersendiri.

‘’Tidak adanya  ayam pedaging  tidak berpengaruh kepada penjualan  daging ayam kampung. Karena, konsumen ayam kampung biasanya membelinya dalam porsi sedikit dan dinikmati sendiri. Sedang ayam pedaging digunakan untuk keperluan yang lebih besar, seperti dijual kembali atau untuk kebutuhan lainnya,’’ tutur Tyas pedagang daging ayam kampung.

Tyas menambahkan, alasan lain masyarakat lebih suka memilih ayam pedaging daripada daging ayam kampung, karena harga daging ayam kampung lebih mahal yakni mencapai Rp 80.000/ kilogramnya.

Langkanya penjual ayam pedaging di pasar dibenarkan beberapa pedagang sayur keliling. ‘’Di pasar memang tidak ada yang jual daging ayam potong, dan los tempat mereka berjualan dibiarkan kosong,’’ tutur Iqbal.

Kalaupun ada yang menjual, tambah Yu Sum pedagang lainnya, dia tidak berani kulakan. ‘’Belinya sudah mahal terus mau dijual berapa kepada pelanggan di perumahan,’’ ungkapnya. (SMNet.Com/dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here