Bagikan
Para wanita penghuni rumah pondokan di Jalan Sadewa Kelurahan Wonokarto, Kecamatan dan Kabupaten Wonogiri, ramai-ramai menuliskan surat pernyataan bahwa eksistensinya tidak akan membuat gaduh dan meresahkan warga masyarakat.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Warga masyarakat di Kelurahan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, merasa resah oleh keberadaan rumah kos (pondokan) wanita milik Eko di Jalan Sadewa. Pasalnya, bila malam suasananya menjadi gaduh, banyak datang tamu pria yang tidak mengenal waktu. Situasi ini, membuat ketidaknyamanan bagi warga sekitar, karena dinilai mengganggu orang berumah tangga yang bermukim di kampung.

Ketika para warga RT 4/RW 1 Kelurahan Wonokarto, menyampaikan protes bahwa keberadaan kos wanita tersebut telah mengganggu lingkungan, malah berujung keributan antara warga dengan para penghuni rumah pondokan. Penghuni rumah pondokan, menyampaikan argumentasi bahwa mereka telah memenuhi kewajiban membayar uang sewa pemondokan dan karenanya memiliki hak untuk bermukim. Mereka keberatan bila disebut sebagai biang kemunculan kegaduhan lingkungan, serta menolak protes warga. Menurutnya, keberadaan mereka di rumah pemondokan tersebut, tidak menimbulkan gaduh dan berargumen bahwa eksistensinya tidak mengganggu lingkungan.

Tidak ingin keributan berujung kepada hal-hal yang tidak diinginkan, para warga RT 4/RW 1 Kelurahan Wonokarto, Kecamatan dan Kabupaten Wonogiri, kemudian melaporkan beramai-ramai masalah tersebut ke Kantor Polsek Wonogiri Kota. Laporan warga diterima oleh Kapolsek Wonogiri Kota AKP Surono, bersama Kanit Reskrim Iptu Rudi Sujatmiko didampingi Kepala SPK Bripka Susilo.

Kapolsek Wonogiri Kota, AKP Surono, Rabu (26/9), membenarkan telah menerima laporan warga. ”Warga merasa terganggu dengan keberadaan rumah kos wanita, yang sering didatangi laki-laki,” jelas Kapolsek. Untuk menyikapi persoalan ini, pemilik dan para penghuni rumah kos bersama warga, didatangkan ke Kantor Polsek Wonogiri Kota. Mereka diberikan pengarahan dan pembinaan, dalam upaya mewujudkan situasi keamanan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif.

Pemilik rumah pondokan bersama para wanita penghuninya, masing-masing kemudian membuat pernyataan tertulis, bahwa keberadaannya tidak akan membuat gaduh, tidak menerima tamu pria pada larut malam, serta eksistensinya tidak akan mengganggu ketenangan orang berumah tangga yang bermukim di perkampungan. Persoalan rumah pondokan wanita ini, akhirnya berhasil diselesaikan dengan cara damai, melalui pembinaan dan pengarahan serta menempuh jalan musyawarah keduabelah pihak, untuk saling menjaga agar situasinya menjadi kondusif.(SMNet.Com/bp) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here