Bagikan
Ketua Jaringan Advokasi Hukum dan Pemilu Jawa Tengah: Teguh Purnomo

MAGELANG – Koordinator Jaringan Advokasi Hukum dan Pemilu Jawa Tengah Dr H Teguh Purnomo SH MH MKn menyarankan para calon anggota legislatif (caleg) untuk rajin melakukan sosialisasi. Itu untuk membantu pemilih agar tidak bingung.

Dosen sejumlah perguruan tinggi di Jateng ini mengingatkan bahwa Pemilu 2019 tinggal menunggu waktu. Tahapan demi tahapan terus berjalan. Baik yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, KPU provinsi, maupun kabupaten/kota.

Disebutkan, pada pesta demokrasi mendatang, pemilih akan menerima lima kartu suara untuk Pilpres, DPR RI, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Hal itu bukan saja akan membuat sibuk dan bahkan membingungkan pemilih. Namun juga bisa bikin pusing calon anggota legislatif (caleg) dan calon presiden-wakil presiden beserta tim suksesnya.

Sehubungan dengan itu, menurut Teguh, caleg incumbent maupun pendatang baru harus lebih masif melakukan kerja politik, yakni sosialisasi. Nomor urut partai politik (parpol) yang berbeda dengan pemilu sebelumnya juga akan membingungkan pemilih. ”Bagi caleg incumbent yang bergeser daerah pemilihan berikut nomor urutnya dituntut lebih mampu membumikan diri di masyarakat,” katanya.

Menurut dia, caleg incumbent tantangannya lebih berat. Karena menjadi catatan masyarakat pemilih. Selama menjadi anggota dewan di periode sebelumnya akan diingat, dan dicatat track recordnya. Terlebih yang inkonsisten, dan pernah mencederai janji ke dapil atau masyarakat pemilihnya.

Pria asal Kebumen ini mencontohkan caleg incumbent di DPRD kabupaten dan kota se-Jawa Tengah periode 2004-2009. Ketika muncul kasus di daerah, ada di antara incumbent yang namanya disebut-sebut. Hasilnya, tidak lebih dari 50 persen incumbent yang terpilih dan duduk kembali untuk periode berikutnya.

Ketika caleg incumbent menjadi catatan, lanjutnya, lain halnya caleg mendatang baru yang menjadi harapan. Itu terjadi karena masyarakat pemilih ada yang merasa kapok, merasa dikibuli dan disapa anggota legislatif ketika dibutuhkan saja. Caleg baru menjadi harapan lantaran belum punya kesalahan di mata pemilih, terlebih ketika bersedia membuat kesepakatan. ”Hal itu juga berpotensi terjadi dalam pilpres yang akan datang,” imbuhnya. (ach)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here