Bagikan
GELAR PASUKAN: Polres Magelang melakukan apel gelar pasukan untuk pengamanan Borobudur Marathon 2018 yang akan berlangsung Minggu Pagi (18/11).

MAGELANG – Jajaran Polres Magelang yang ditopang anggota TNI dan Kodim 0705/Magelang dan Armed 3/Magelang akan mengamankan pelaksanaan Borobudur Marathon 2018 yang akan berlangsung Minggu pagi (18/11). Lomba yang memperebutkan total hadiah Rp 2 miliar itu diikuti sekitar 10 ribu pelari.

Peserta dari luar negeri sebanyak 205, mereka berasal dari 30 negara. Peserta tertua adalah Judith Van Ginkel (85) asal Belanda. Sedangkan peserta termuda ada empat anak asal Indonesia, masing-masing berusia lima tahun. Yakni Alifdion Surya Prayitno, Dinar Agmida, Riko Rikardo, dan Haris Kurniawan.

Kapolres AKBP Hari Purnomo pada apel gelar pasukan pengamanan Borobudur Marathon di Lapangan Samodra Raksa, Taman Wisata Candi Borobudur (TMCB) Sabtu pagi (17/11) mengatakan, kegiatan serupa pada tahun lalu berjalan sukses, lancar, aman, dan kondusif. Tahun ini minimal bisa mempertahankan kesuksesan pengamanan seperti tahun lalu, dengan upaya peningkatan agar lebih baik lagi. ”Tapi tidak boleh berpuas diri tahun lalu kita berhasil,” katanya.

Penekanan itu karena potensi kerawanan terus berjalan. Oleh karena itu tidak boleh under estimate, sebaliknya harus tetap waspada. Ada beberapa hal yang perlu diantisipasi terkait potensi kerawanan. Yakni bagaimana polisi mampu mengantisipasi permasalahan, gangguan kamtibmas, gangguan kamtibcarlantas, dan membuat nyaman pelari. ”Lintasan jalur pelari harus steril, tidak terganggu lalu lalang pengendara sepeda motor, mobil, atau hewan seperti kambing dan sapi. Peserta bisa lari tanpa gangguan,” imbuhnya.

Pesan seperti itu karena peserta lomba merupakan pelari dari mana-mana dan larinya dengan kecepatan tinggi. Sehingga kalau ada yang di jalan bisa tertabrak.

Kapolres juga menegaskan akan melakukan pengamanan terkait ancaman terorisme. Karena bisa saja teroris memanfaatkan momentum internasional itu. Itu bisa jadi ajang menarik untuk melakukan aksi teror. Sehingga event itu bisa dimanfatakan untuk menunjukkan eksistensi teroris. ”Bisa saja melakukan penyerangan menggunakan bom di objek vital, lokasi start finish, dan tempat yang memungkinkan untuk aksi serangan,” tandasnya.

Aksi serangan juga bisa saja diarahkan kepada petugas pengamanan. Sebab dianggap musuh besar mereka. Sehingga ketika melaksanakan pengamanan bisa menjadi sasaran penyerangan.

Polisi juga tetap memperhatikan gangguan kamtibmas seperti penganiayaan, pencurian,
pencopetan, penculikan. ”Semua bentuk ancaman harus diantisipasi,” tandasnya.

Dia meminta seluruh petugas pengamanan untuk menjalankan tugas secara serius. Tak terkecuali kepada para perwiranya. Keberhasilan pengamanan tergantung perwira pengawas, pendamping, dan pengendali. (ach)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here