Bagikan
Karena sepi pembeli, Pono, pengrajin dan sekaligus penjual terompet tahun baru asal Desa Golo, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, tertidur dalam posisi duduk bersandar ke dinding tembok Pasar Wisata Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.(SMNet.Com/bp)

KARANGANYAR – Seperti biasa, Pasar Wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar, Jateng, selalu ramai dikunjungi orang. Menjelang Tahun Baru 2019, datang pula bakul terompet yang menjajakan dagangannya di tepi pintu masuk pasar. Namun bakulnya, terlihat menepi ke sisi tembok dan tertidur dalam posisi duduk dengan bersandar ke dinding tembok pasar.

Bakul terompet tahun bari ini, Pono (65), mengaku warga asal Desa Golo, Kecamatan Puhpelem (sekitar 70 Kilometer arah timur laut Kota Wonogiri). Mendadak dia terbangun, ketika serombongan keluarga yang membawa serta anak kecil, datang mendekat ke dagangan terompet yang dia pajang memakai jagrak bambu. Ini terjadi ketika si anak merengek minta dibelikan mainan terompet. ”Mangga silahkan pilih,” ujar Pono tergagap karena baru saja terjaga dari tidurnya. Belum sempat tanya harga terompet berapa, si Emak bergegas menarik anaknya untuk dibawa masuk ke dalam pasar, sambil berujar: ”Mari belanja dulu ke dalam pasar, belinya terompet nanti kalau pulang.”

Pono, mengaku sejak Minggu (23/12) telah datang menjajakan terompet di Pasar Wisata Tawangmangu. ”Tapi suasananya sekarang sepi, tidak selaris tahun-tahun yang lampau,” keluhnya. Bapak dari satu anak dan kakek dari dua cucu ini, mengaku sejak geger G 30 S/PKI Tahun 1965 sudah berjualan terompet tahun baru ke berbagai kota yang memiliki keramaian. Dulu dia biasa membawa 1.000 terompet dan dipastikan habis ketika menjelang malam pergantian tahun baru.

”Karena sepi peminat, sekarang ini hanya membawa 250 terompet,” ujarnya sembari menyebutkan, dua hari berjualan di Pasar Wisata Tawangmangu belum satu pun yang terjual. Meskipun keberadaannya di depan Pasar Tawangmangu hanya Pono sendiri yang berjualan terompet tahun baru. Harga terompet yang dia jajakan termurah Rp 5 ribu, yang dilengkapi kepala naga, kepala ayam jago dan kupu-kupu masing-masing dipasang harga Rp 15 ribu. Pono juga menjajakan terompet bikinan Tiongkok yang dilengkapi dengan tabung berpompa, harganya Rp 45 ribu.

Pono, menyatakan, kejayaan berjualan terompet tahun baru telah lewat. Dulu, tuturnya, orang sekampung rama-ramai berjualan terompet tahun baru. Ini karena berjualan terompet menjelang tahun baru dijamin akan mendapatkan untung lumayan. Bermodal jualan kambing, pulang dapat membeli sapi. ”Namun belakangan sepi, yang berjualan hanya tinggal tiga orang saja,” ujarnya. Disamping bertindak sebagai penjual, Pono, juga tampil menjadi pengrajin. Istrinya yang berdiam di rumah, ikut membantu membuat terompet berbahan kertas. Termasuk membuat empet, yakni komponen terompet penimbul bunyi yang terbuat dari potongan galah bambu wuluh yang diberi selipan kertas kecil.

Terhitung sejak terompet buatan Tiongkok membanjiri Indonesia, para pengrajin tidak lagi membuat komponen empet. Mereka lebih suka membeli komponen empet dari Negeri Tirai Bambu, yang relatif lebih kuat, lebih awet dan bunyinya lebih nyaring melengking. ”Kami tinggal merakitnya sesuai bentuk yang diinginkan,” tutur Pono. Sebagai pengrajin terompet, dia masih ingat betul ketika menerima order dalam jumlah banyak. Ini karena Menteri Pariwisata waktu itu, Soesilo Soedarman, menyerukan agar semua hotel di Indonesia merayakan malam old and new year dengan membagi-bagikan terompet kertas buatan pengrajin terompet Wonogiri kepada para tamunya. Namun sekarang, situasi dan kondisinya telah berbalik, banyak tokoh yang melarang tiup terompet menyambut tahun baru.

Di Kabupaten Wonogiri, sentra pengrajin terompet berada di Kecamatan Bulukerto dan Puhpelem. Hampir semua warga membuat kerajinan terompet untuk penyambutan tahun baru. Terompet hasil buatannya, kemudian dijual ke kota-kota besar, bahkan sampai ada yang melintas pulau yakni ke Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulwesi, NTB dan NTT. Tapi sekarang, itu tinggal menjadi kenangan saja. Karena sepi, hanya sebagian kecil saja warga asal Wonogiri yang masih setia berjualan terompet tahun baru.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here