Bagikan
Bupati Wonogiri Joko Sutopo (duduk tengah di panggung depan), didampingi Plt Kepala DLH Sri Wahyu Widayatto dan Asisten Sekda Bambang Haryadi, menggelar sarasehan di TPA Kasihan Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Manakala tidak ditangani dengan tata kelola yang baik, komprehensif dan profesional, masalah sampah ke depan dapat menjadi persoalan lingkungan yang berdampak pada kehidupan. ”Berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan,” tegas Bupati Wonogiri Joko Sutopo.

Penegasan orang nomor satu di Kabupaten Wonogiri ini, Rabu (23/1), dikemukakan dalam acara syukuran penganugerahan penghargaan Adipura, yang digelar di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Dusun Kasihan, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo (11 Kilometer arah timur Kota Wonogiri). Acara ini, dirangkai dengan sarasehan bersama para penanggungjawab titik pantau Adipura, pasukan kuning, para pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tokoh masyarakat beserta warga di yang tinggal di sekitar lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ikut hadir Camat Ngadirojo, Agus Hendradi dan Camat Wonogiri Kota Slameto Sudibyo, masing-masing bersama jajaran Forkompincam, Asisten Sekda Bambang Haryadi, dan para pimpinan dinas instansi terkait. Plt Kepala DLH Kabupaten Wonogiri, Sri Wahyu Widayatto, melaporkan, telah tiga tahun berturut-turut Kota Wonogiri mendapatkan anugerah Adipura tingkat nasional yang penyerahannya dilakukan oleh Wakil Presiden. Yakni anugerah Adipura untuk kategori kota kecil. Dipilihnya TPA untuk menggelar acara syukuran, sekaligus untuk membuktikan bahwa keberadaan sampah di TPA tidak menimbulkan pencemaran bau. Keberadaan TPA, ini telah memberikan dukungan yang besar dalam penilaian Adipura.

Kata Sri Wahyu Widayatto, setiap hari TPA menerima pasokan sampah sebanyak 183 Meter Kubik (M3) atau seberat 6 ton. Ke depan, ada penawaran kerjasama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan sampah yang lebih baik lagi. Ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pemkot Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo. ”Sampah TPA Putri Cempo di Surakarta, telah diolah menjadi energi listrik,” ujar Sri Wahyu Widayatto.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Afif Nur Imam dari UNS Sebelas Maret Solo, manakala sampah di TPA Kasihan Kerjolor ini, dikelola dengan teknik composting dan pemilahan sampah unorganik, akan memberikan nilai tambah ekonomi Rp 760 ribu per hari. Selama ini, sekitar 70 persen sampah unorganik masih terbuang sia-sia. Pada hal bila dikelola dengan baik, dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang cukup berarti. Di sisi lain, dampak gangguan pencemaran terhadap lingkungan, makin dapat ditekan untuk dinihilkan.

Kepada para peserta sarasehan, Bupati Joko Sutopo, mengajak agar semua elemen masyarakat peduli terhadap pengelolaan sampah secara mandiri. Utamanya sampah rumah tangga, dapat dikelola sendiri oleh masing-masing warga, tanpa harus dibuang ke sungai sebagai tindakan pintas yang pragmatis. Terkait ini, Bupati, menyerukan perlunya edukasi kepada masyarakat untuk dibangkitkan kesadaran kolektivitasnya dalam penanganan sampah. ”Ini penting untuk dilakukan, karena makin hari volume sampah makin meningkat, seirama dengan bertambahnya penduduk,” tegas Bupati.

Dalam acara sarasehan ini, dibuka dialog interaktif hadirin dengan Bupati. Bersamaan itu, Bupati menjanjikan akan memberikan bantuan sepatu bot kepada para petugas sampah, juga menjanjikan akan memprioritaskan pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) dan pembangunan infrastruktur jalan di Desa Kerjolor dan sekitarnya. Salah seorang anggota Pasukan Kuning, usul kepada Bupati agar tidak melakukan rasionalisasi petugas sampah. Bupati juga diminta untuk menambah kelengkapan peralatan sarana TPA.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here