Bagikan
Motivator nasional, Dr Marlock yang akrab disapa sebagai Gus Mar (berdiri kiri mengenakan ikat kepala destar Bali), tampil memberikan motivasi perlunya membuat komitmen baru, demi memajukan pendidikan SMK Muhamadiyah Wonogiri.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Para guru beserta karyawan dan segenap pengelola Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhamadiyah, diserukan untuk memiliki komitmen baru. Yakni berani membuat kebijakan baru, untuk menjadikan SMK sebagai Sekolah Menghapus Kemiskinan, dan SMK sebagai Sekolah Mencari Kehidupan.

Demikian ditegaskan oleh Dr Marlock, Sabtu (13/4), saat tampil menjadi nara sumber dalam acara Penguatan Keluarga Besar Guru dan Karyawan SMK Muhamadiyah se Kabupaten Wonogiri. Acara ini, digelar di lantai dua ruang pertemuan Alami Sayang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Kepala SMK Muhamadiyah Tirtomoyo, Heru Purnomo, selaku Ketua Panitia menyatakan, pertemuan ini mengambil tema ”Menuju Wonogiri Berkemajuan.”
Acara ini, dibuka resmi oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhamdiyah (PDM) Wonogiri, Kusman. Dihadiri para Kepala Sekolah (Kasek) dan insan pendidik SMK Muhamdiyah se Kabupaten Wonogiri serta tokoh Muhamadiyah Wonogiri.

Pendidikan, tandas Kusman, masuk dalam empat program unggulan Organisasi Muhamdiyah, disamping bidang kesehatan, sosial masyarakat, dan ekonomi. ”Kami mengharapkan, Sekolah Muhamdiyah dapat dikelola secara profesional dengan bersungguh-sungguh dalam usaha kebersamaan, agar diserbu murid,” tegas Kusman. Ibarat lidi, tambahnya, manakala disatukan dalam satu ikatan, akan memberikan manfaat yang luar biasa.

Marlock, tokoh nasional dari Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3MKI), menyatakan prihatin karena lulusan SMK di Tanah Air masih menyumbang angka pengangguran sebesar 11,24 persen. Menurut peta pengangguran di Indonesia, ada 5 provinsi yang angka penganggurannya tinggi, yakni Banten, Jabar, Sulut, Kepri dan Jakarta.

Mestinya, lulusan SMK berpeluang besar untuk bekerja, berwirausaha, atau meneruskan kuliah. Tapi proses lulusan SMK untuk menjadi pekerja, jalannya panjang dan tidak mudah karena harus melewati seleksi yang ketat dan kompetitif. Banyak lulusan SMK yang gagal di seleksi administrasi, karena terkendala oleh faktor akademis terkait dengan nilai yang hanya pas-pasan dan di bawah nilai yang dipersyaratkan di Dunia Usaha Dunia Industri (Dudi).
Di sisi lain, banyak pelamar kerja yang gagal karena tidak memiliki bekal karakter pembentuk kepribadiannya, atau tidak lolos tes kesehatan dan wawancara, serta disebabkan oleh hal-hal sepele lainnya. Ini terkait dengan sikap, perilaku dan tutur kata. Meskipun untuk bekerja di luar negeri terbuka peluangnya, yakni seperti ke Jepang misalnya, yang membutuhkan 2 juta lulusan SMK tamatan dari Indonesia.

Marlock, sebagai motivator tingkat nasional, mengajak agar para pengelola SMK Muhamadiyah di Wonogiri, berani membuat komitmen untuk membuat kebijakan baru, dengan senantiasa menyesuaikan pada perubahan zaman. ”Zaman senantiasa berubah, supaya kita tidak termakan zaman, harus mampu menyesuaikan terhadap perubahan zaman itu sendiri,” tegasnya.

Tentang peluang berusaha, Marlock, menyarankan untuk memulainya dari upaya mengembangkan usaha rumahan yang lebih dulu dirintis oleh orang tuanya. Banyak tokoh wirausaha besar berhasil menjadi konglomerat, karena mengembangkan usaha yang pernah dirintis oleh orang tuanya. Terkait dengan upaya meningkatkan mutu akademis, Marlock, menantang kepada para wali kelas mampu mengantarkan masing-masing satu siswanya agar lolos tes SMPTN atau bidik misi, untuk dapat meneruskan kuliah ke jenjang perguruan tinggi atau ke Akmil dan Akpol, guna mendapatkan beasiswa dan ikatan dinas.(SMNet.Com/bp)  

(SMNet.Com/bp)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here