Bagikan
Ribuan massa pesilat melakukan konvoi kendaraan bermotor di jalanan Wonogiri. Aksi massa yang berlangsung malam hari ini, sempat membuat takut warga masyarakat Wonogiri.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Karena diduga menjadi korban sasaran amuk massa pesilat, Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramadhani mengalami luka-luka serius dan dilarikan ke rumah sakit. Peristiwa ini berlangsung Kamis dinihari (9/5) di wilayah Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Kejadiannya bersamaan ketika sedang melakukan tugas pengamanan untuk meredam konflik massa pesilat dari dua perguruan.

Kasubag Humas Polres Wonogiri Iptu Suwondo mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti, kepada wartawan membenarkan bahwa Kasatreskrim kini dirawat di RS Dokter Oen Solo Baru. Ketika melakukan pengamanan terhadap konflik massa pesilat, AKP Aditia mengenakan pakaian preman, dan terpisah dengan rekan-rekannya, sehingga menjadi sasaran korban amuk massa. Pasca terjadinya tragedi ini, Kamis (9/5), jajaran Polri dan TNI melakukan penjagaan ketat di Ibukota Kecamatan Sidoharjo (15 Kilometer arah timur Kota Wonogiri). Ini dilakukan untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan kemunculan aksi lanjutan dari massa pesilat.

Berkaitan ini, Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi. Kamis (9/5), mendatangi RS Dokter Oen Solo Baru, untuk membezuk Kasatreskrim AKP Aditia Mulya Ramadhani, yang terbaring sakit di ruangan ICU. Petinggi kepolisian Polda Jateng ini, menyesalkan dan merasa prihatin terhadap kemunculan kasus tersebut, dan menginstruksikan untuk segera diselesaikan, supaya kasus ini tidak berekses dimanfaatkan oleh pihak lain.

Sementara itu para pimpinan Polri dan TNI di Surakarta, Kamis (9/5), menggelar rapat koordinasi (Rakor) yang membahas masalah ini di Mapolresta Surakarta. Ini dilakukan dengan tujuan untuk mengadakan rekonsiliasi antara Perguruan Silat (PS) yang konflik, yakni dari kubu Persudaraan Setia Hati (PSH) Winongo dengan PSH Teratai Wilayah Jateng dan Jatim. Rapat dipimpin langsung oleh Danrem 074 Warastratama Surakarta Kolonel (Inf) Rafael Granada Bay dan Kapolresta Surakarta Kombes Ribut Hari Wibowo. Hadir pula para Dandim dan Kapolres se Surakarta, Ketua Umum PSHW Pusat R Agus Winarno S dan Ketua Umum PSHT Pusat R Moerdjoko. Kedua organisasi PS ini, pusatnya berkedudukan di Madiun, Jatim.

Dalam rapat tersebut, diihadirikan pula para pimpinan cabang PS dari kedua kubu itu yang eksis di wilayah Solo Raya. Rapat memutuskan, perlunya ada langkah solusif untuk mencegah kemunculan konflik lanjutan yang dipicu saling mendendam. Kepada para pesilat yang melakukan penganiayaan dan tindakan anarkis, harus dikenai tindakan hukum.

Konflik massa pesilat yang menyebabkan jatuhnya korban sakit pada Kasatreskrim Polres Wonogiri tersebut, terjadi sebagai buntut dari adanya insiden perusakan tugu monumen perguruan silat yang viral karena diunggah ke medsos. Itu kemudian berdampak pada tindak balasan perusakan dan penganiayaan anggota pesilat, serta memicu terjadinya konflik antar-PS. Sejumlah tugu monumen PS menjadi sasaran pengerusakan oleh massa pesilat untuk dihancurkan. Puncaknya, terjadi pengedropan massa berjumlah ribuan, yang tidak saja datang dari Kabupaten Wonogiri, tapi juga dari wilayah Solo Raya (Jateng), Ponogoro, Madiun, Magetan dan Pacitan (Jatim). Massa pesilat ini, datang dengan mengendarai motor dan mobil serta membuat konvoi di sepanjang jalan-jalan di wilayah Kabupaten Wonogiri.

Kehadiran massa pesilat dalam jumlah besar di malam hari ini, sempat membuat takut warga masyarakat Wonogiri. Untuk meredam ulah mereka, jajaran Polres dan Kodim 0728 Wonogiri, sigap melakukan upaya penanganan. Tapi dampaknya, Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramadhani, menjadi korban sasaran amuk massa.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here