Bagikan
Para pesilat Wonogiri didorong untuk menghindarkan konflik perseteruan antarperguruan. Diharapkan dapat fokus meraih prestasi di kejuaraan olahraga cabang pencak silat di event resmi di Tanah Air.(SMNet.Com/bp)

WONOGIRI – Kalangan tokoh di Kabupaten Wonogiri, mendorong upaya untuk menghapuskan potensi konflik antarperguruan pencak silat. Para pendekar, diseru untuk fokus melakukan pembinaan yang mengarah pada tercapainya prestasi di kejuaraan pencak silat di Tanah Air, dengan ditandai perolehan medali.

Para tokoh yang mendorong upaya mewujudkan prestasi olahraga cabang pencak silat, datang dari Bupati Wonogiri Joko Sutopo, Ketua KONI Wonogiri, Eko Budi Santosa, Pimpinan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Wonogiri, Weda, dan Pimpinan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wonogiri yang sekaligus sesepuh Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) Asad Wonogiri, Djumino.

Para tokoh ini, mendukung langkah pemusnahan massal tugu monumen identitas Perguruan Silat (PS) di Kabupaten Wonogiri, sebagai langkah untuk menjaga kondusivitas Keamanan Ketertiban Masyarakat (Kamibmas) wilayah Kabupaten Wonogiri. Tujuannya, agar jangan sampai kasus perseteruan dan konflik antarperguruan yang berbuntut amuk massa pesilat, terulang kembali di Kabupaten Wonogiri.

Apalagi, tugu monumen tersebut merupakan bangunan ilegal yang tidak dilengkapi dengan dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di sisi lain, keberadaan tugu monumen tersebut, berpotensi memicu konflik perseteruan dan amuk massa para pesilat. Di Wonogiri ada 108 tugu, terdiri dari 22 tugu yang dibangun PS Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), dan 86 tugu yang dibangun PS Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT).

Seperti pernah diberitakan, terjadi konflik para pesilat dari PS dari PSHT dengan PSHW, yang berdampak pada penganiayaan pengeroyokan terhadap Kasat Reskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramadhani. Sebagai korban salah amuk, AKP Aditia Mulya Ramadhani, menderita luka parah dan koma, serta dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Singapura.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menyayangkan kemunculan kasus amuk massa yang dilakukan para pesilat tersebut. ”Mestinya potensi pesilat harus didorong untuk memenangi kejuaraan resmi di gelanggang olahraga, agar memiliki prestasi yang membanggakan,” tegas Bupati. Orang pertama di Wonogiri ini, Bulan September 2018 lalu berkenan memfasilitasi kejuaraan pencak silat yang digelar di GOR Giri Mandala Kabupaten Wonogiri dan diikuti 317 pesilat.

Pimpinan IPSI Kabupaten Wonogiri, Weda, dan Pimpinan LDII yang juga sesepuh Persinas Asad, Djumino, memberikan pernyataan mendukung langkah-langkah demi mewujudkan kondusivitas wilayah, dan berharap agar konflik antarperguruan silat di Wonogiri tidak terulang lagi. Penegasan sama, juga disampaikan oleh Ketua KONI Kabupaten Wonogiri, Eko Budi Santosa. Sebagai Suhu dan pimpinan Perguruan Silat Anak Naga Wonogiri, Eko Budi Santosa, mendorong agar para pesilat fokus untuk berprestasi di berbagai kejuaraan resmi pencak silat di Tanah Air.(SMNet.Com/bp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here